Jumat, 14 November 2014

Tanpa judul

Gerimis sisa hujan sore tadi masih memukuli daun daun bambu yang ada di samping rumah. Mengalun lembut bersama deritan batang bambu membentuk melodi yang menenangkan jiwa, setidaknya, aku melupakan kekecewaanku pada beberapa orang belakangan ini.
Kopi susu hangat, dan sebatang rokok di antara jari manis dan jari tengah, menemaniku menikmati suasana malam yang syahdu ini.
Wangi bunga kemuning, yang berjajar memagari halamanku, menari nari di depan hidungku, mengusir aroma kopi yang amat kusukai.
"Ada apa le?" Sapa bapaku yang entah mulai kapan duduk di sampingku, di kursi kayu yang reyot, yang bahkan akupun tak akan memilih untuk duduk di situ.
Kupandangi bapaku, rambut panjang berombak berwarna campuran hitam dan putih, yang sekilas berwarna abuabu,  memandang lurus ke depan, tanganya menyisir kumis dan jenggot yang berwarna senada dengan rambut, jika di gabung dengan postur besar dan kulit hitamnya, menjadi paduan tepat untuk disebut berwibawa.
Aku masih belum menjawab sapaanya, aku memang sering beradu pendapat dengan beliau, hubunganku juga sempat kurang harmonis, tapi itu dulu...
Kuhisap rokok di tanganku dalam dalam, otak ku masih menyusun kata kata untuk menjawab pertanyaan bapaku, entah kenapa, kata kata itu selalu buyar saat semua sudah sampai diujung lidahku.
Tiba tiba beliau berdiri, gerakanya membuat mataku secara reflek memandangnya, dilepasnya kaos hitam yang dipakainya. Aku tak habis pikir, suhu sudah cukup dingin untuku, apalagi untuknya?
Dilemparkan kaos itu tepat ke pangkuanku, masih aku pandangi dirinya dengan bingung.
"Sampeyan pake le, kaos bapak!" Perintahnya lembut, ahhh aku baru sadar, suaranya lembut sekarang...
"Ndak cukup pak" jawabku sebelum kaos itu aku pakai, badanku memang lebih besar darinya.
"Coba dulu..."
Aku menurutinya, tanpa tahu maksud dan tujuanya. Aku memaksa kaosnya masuk dan pas ke tubuhku.
"Praaaaakkkkkkk" kaos itu menjerit, sobek di bagian kepala,aku masih memaksanya masuk, sobekan bertampah di lengan dan di samping.
Sekarang aku memandang bapaku tajam, meminta penjelasan. Tapi ta sekalipun dia menolehku, pun melirik padaku.
"Kaos itu, ibarat standar yang bapak tetapkan pada diri bapak. Bapak tidak bisa memaksa kamu memakai standar yang bapak tetapkan pada diri bapak sendiri, karena apa? Pada saat kamu memaksa orang dengan standar kamu, kekecewaan lah yang kamu dapatkan, hanya kekecewaan, pada sekitarmu. Ketahui standar orang lain, lakukan untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain. Cintai dirimu, anaku."
Kurenungkan ucapan bapaku, kupandangi tetesan air dedaunan. Aroma kemuning mulai pergi dari hidungku. Kudengar lagi senandung hujan dan batang bambu yang semakin jelas, ya hujan semakin deras.
Ku toleh ke samping, tak kutemukan bapaku di sana. Dia sudah pergi, ya.... sudah pergi..... Bapak, apapun yang pernah terjadi pada kita, aku masih menyayangimu di sini.... I LOVE YOU Bapak......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar