Gerimis sisa hujan sore tadi masih memukuli daun daun bambu yang ada di samping rumah. Mengalun lembut bersama deritan batang bambu membentuk melodi yang menenangkan jiwa, setidaknya, aku melupakan kekecewaanku pada beberapa orang belakangan ini.
Kopi susu hangat, dan sebatang rokok di antara jari manis dan jari tengah, menemaniku menikmati suasana malam yang syahdu ini.
Wangi bunga kemuning, yang berjajar memagari halamanku, menari nari di depan hidungku, mengusir aroma kopi yang amat kusukai.
"Ada apa le?" Sapa bapaku yang entah mulai kapan duduk di sampingku, di kursi kayu yang reyot, yang bahkan akupun tak akan memilih untuk duduk di situ.
Kupandangi bapaku, rambut panjang berombak berwarna campuran hitam dan putih, yang sekilas berwarna abuabu, memandang lurus ke depan, tanganya menyisir kumis dan jenggot yang berwarna senada dengan rambut, jika di gabung dengan postur besar dan kulit hitamnya, menjadi paduan tepat untuk disebut berwibawa.
Aku masih belum menjawab sapaanya, aku memang sering beradu pendapat dengan beliau, hubunganku juga sempat kurang harmonis, tapi itu dulu...
Kuhisap rokok di tanganku dalam dalam, otak ku masih menyusun kata kata untuk menjawab pertanyaan bapaku, entah kenapa, kata kata itu selalu buyar saat semua sudah sampai diujung lidahku.
Tiba tiba beliau berdiri, gerakanya membuat mataku secara reflek memandangnya, dilepasnya kaos hitam yang dipakainya. Aku tak habis pikir, suhu sudah cukup dingin untuku, apalagi untuknya?
Dilemparkan kaos itu tepat ke pangkuanku, masih aku pandangi dirinya dengan bingung.
"Sampeyan pake le, kaos bapak!" Perintahnya lembut, ahhh aku baru sadar, suaranya lembut sekarang...
"Ndak cukup pak" jawabku sebelum kaos itu aku pakai, badanku memang lebih besar darinya.
"Coba dulu..."
Aku menurutinya, tanpa tahu maksud dan tujuanya. Aku memaksa kaosnya masuk dan pas ke tubuhku.
"Praaaaakkkkkkk" kaos itu menjerit, sobek di bagian kepala,aku masih memaksanya masuk, sobekan bertampah di lengan dan di samping.
Sekarang aku memandang bapaku tajam, meminta penjelasan. Tapi ta sekalipun dia menolehku, pun melirik padaku.
"Kaos itu, ibarat standar yang bapak tetapkan pada diri bapak. Bapak tidak bisa memaksa kamu memakai standar yang bapak tetapkan pada diri bapak sendiri, karena apa? Pada saat kamu memaksa orang dengan standar kamu, kekecewaan lah yang kamu dapatkan, hanya kekecewaan, pada sekitarmu. Ketahui standar orang lain, lakukan untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain. Cintai dirimu, anaku."
Kurenungkan ucapan bapaku, kupandangi tetesan air dedaunan. Aroma kemuning mulai pergi dari hidungku. Kudengar lagi senandung hujan dan batang bambu yang semakin jelas, ya hujan semakin deras.
Ku toleh ke samping, tak kutemukan bapaku di sana. Dia sudah pergi, ya.... sudah pergi..... Bapak, apapun yang pernah terjadi pada kita, aku masih menyayangimu di sini.... I LOVE YOU Bapak......
Tempat untuk berkomentar sesuka hati
Mari berbicara tentang apa aja di sekitar kita
Jumat, 14 November 2014
Tanpa judul
Kamis, 17 Maret 2011
Racauan Malam
Aku berada di tengah sebuah rimba di malam yang gelap. Aku hanya bisa memandang kelip bintang di sela sela rimbunya dedaunan sambil mengharap setitik sinar itu akan menghampiriku, menemaniku, dan menyinari jalanku.
Sepi.... Walau aku bukanlah satu satunya makhluk di rimba ini. Walau suara berisik air yang tanpa henti menyusuri jalanya. Aku mendengar kicauan burung, kerikan jangkrik, dan suara hewan hewan malam yang justru membuatku terperosok dalam kesunyian ini.
Walau hanya diam, tapi pohon pohon yang tingginya berkali kali dari tinggiku itu juga makhluk, ahh... jujur aku lebih nyaman dengan pohon pohon ini. Kediaman pohon membuatku bisa memikirkan apa yang aku lakukan saat pagi datang.
Ah iya, pagi, aku hampir lupa kalau suatu saat dia akan datang. Saat ini aku mulai meragukan apakah dia beneran akan datang atau hanya dongeng yang membuatku bertahan hidup sampai sekarang.
Hey,,, apa yang aku pikirkan ini, pagi pasti akan datang, menepati janjinya tengoklah belahan bumi lain yang sudah mendapatkan paginya. Walau aku tidak melihat langsung belahan bumi lain itu tapi bukankah begitu seharusnya yang terjadi???
Meracau apa sih aku ni? Lebih baik aku pejamkan mataku saat ini. Biar malam yang panjang ini tidak begitu menyiksaku.
Sepi.... Walau aku bukanlah satu satunya makhluk di rimba ini. Walau suara berisik air yang tanpa henti menyusuri jalanya. Aku mendengar kicauan burung, kerikan jangkrik, dan suara hewan hewan malam yang justru membuatku terperosok dalam kesunyian ini.
Walau hanya diam, tapi pohon pohon yang tingginya berkali kali dari tinggiku itu juga makhluk, ahh... jujur aku lebih nyaman dengan pohon pohon ini. Kediaman pohon membuatku bisa memikirkan apa yang aku lakukan saat pagi datang.
Ah iya, pagi, aku hampir lupa kalau suatu saat dia akan datang. Saat ini aku mulai meragukan apakah dia beneran akan datang atau hanya dongeng yang membuatku bertahan hidup sampai sekarang.
Hey,,, apa yang aku pikirkan ini, pagi pasti akan datang, menepati janjinya tengoklah belahan bumi lain yang sudah mendapatkan paginya. Walau aku tidak melihat langsung belahan bumi lain itu tapi bukankah begitu seharusnya yang terjadi???
Meracau apa sih aku ni? Lebih baik aku pejamkan mataku saat ini. Biar malam yang panjang ini tidak begitu menyiksaku.
Sabtu, 12 Maret 2011
Pesan Dumbledore Pada Harry Potter
Dumbledore, siapa sich yang gak kenal sama dia? Yup dia adalah kepala sekolah hogwart dalam cerita Harry Potter. Ada cerita menarik dari doi (seenggaknya bagi saya). Hehehe...
Berawal dari film Harry Potter And The Half Blood Prince yang pernah saya tonton. Ceritanya saat doi ngajarin si Harry cara memburu horcrux (sebuah benda sihir yang digunakan pangeran kegelapan untuk menyimpan jiwanya) di sebuah gua. Ternyata horcrux yang berupa kalung itu ada di dasar sebuah bejana (kalo menurut saya lebih mirip wastafel) yang penuh dengan racun.
Cara satu satunya untuk ngambil horcrux itu adalah, meminum racun itu sampai habis. Saat itu sang Dumbledore berpesan kalau sampai dia gak kuat untuk meminum racun itu, Harry harus meminumkanya sampai habis walau harus memaksa, walau Dumbledore merengek minta disudahi.
Trus Harry yang merasa lebih muda dan lebih kuat dari Dumbledore mengajukan diri untuk meminum racun itu. Nah jawaban Dumbledore ini yang saya suka, dia menjawab 'KARENA AKU LEBIH TUA, LEBIH PINTAR, DAN LEBIH TIDAK BERGUNA'. Akhirnya Dumbledore meminum semua racun itu. Walau ditengah acara minum racun itu dia sempat merengek minta Harry berhenti untuk meminumkan racun itu. Sesuatu yang wajar mengingat 'menyiksanya' minum racun itu. Walau akhirnya Dumbledore gak mati karena racun itu, tapi hal itu sangat mulia.
Huh, coba deh kalo negara ini punya seorang pemimpin macem Dumbledore. Orang yang mau ngorbanin diri demi orang lain, atau bahkan demi kepentingan yang lebih besar dari itu semua. Walaupun dia memang penyihir terhebat, tapi dia sadar bahwa masa depan sudah bukan miliknya lagi. Tapi milik generasi muda, kalau dalam cerita itu Harry Potter.
Tapi yang terjadi di sini, boro boro mau berkorban dengan menenggak racun. Baru diancam dengan 'kasus' pribadinya saja sudah keder. Bukanya tambah semangat untuk melawan kejahatan, dan mementingkan kepentingan Merah Putih. Tampaknya kita masih harus dengan terpaksa menghamba kepada negara lain.
Huft....
Berawal dari film Harry Potter And The Half Blood Prince yang pernah saya tonton. Ceritanya saat doi ngajarin si Harry cara memburu horcrux (sebuah benda sihir yang digunakan pangeran kegelapan untuk menyimpan jiwanya) di sebuah gua. Ternyata horcrux yang berupa kalung itu ada di dasar sebuah bejana (kalo menurut saya lebih mirip wastafel) yang penuh dengan racun.
Cara satu satunya untuk ngambil horcrux itu adalah, meminum racun itu sampai habis. Saat itu sang Dumbledore berpesan kalau sampai dia gak kuat untuk meminum racun itu, Harry harus meminumkanya sampai habis walau harus memaksa, walau Dumbledore merengek minta disudahi.
Trus Harry yang merasa lebih muda dan lebih kuat dari Dumbledore mengajukan diri untuk meminum racun itu. Nah jawaban Dumbledore ini yang saya suka, dia menjawab 'KARENA AKU LEBIH TUA, LEBIH PINTAR, DAN LEBIH TIDAK BERGUNA'. Akhirnya Dumbledore meminum semua racun itu. Walau ditengah acara minum racun itu dia sempat merengek minta Harry berhenti untuk meminumkan racun itu. Sesuatu yang wajar mengingat 'menyiksanya' minum racun itu. Walau akhirnya Dumbledore gak mati karena racun itu, tapi hal itu sangat mulia.
Huh, coba deh kalo negara ini punya seorang pemimpin macem Dumbledore. Orang yang mau ngorbanin diri demi orang lain, atau bahkan demi kepentingan yang lebih besar dari itu semua. Walaupun dia memang penyihir terhebat, tapi dia sadar bahwa masa depan sudah bukan miliknya lagi. Tapi milik generasi muda, kalau dalam cerita itu Harry Potter.
Tapi yang terjadi di sini, boro boro mau berkorban dengan menenggak racun. Baru diancam dengan 'kasus' pribadinya saja sudah keder. Bukanya tambah semangat untuk melawan kejahatan, dan mementingkan kepentingan Merah Putih. Tampaknya kita masih harus dengan terpaksa menghamba kepada negara lain.
Huft....
Rabu, 09 Maret 2011
FIRST POST
Posting pertama nich, tanpa isi, sambil mikirin konsep yang akan ditampilkan dalam blog ini!
Langganan:
Komentar (Atom)